Neta V-II Tetap Terjual Satu Unit Di Tengah Tantangan Restrukturisasi Bisnis
Di tengah berbagai kabar mengenai krisis yang melanda perusahaan induknya di China, Neta V-II ternyata masih berhasil mencatatkan penjualan. Meski hanya terjual satu unit pada Mei 2026, capaian tersebut menunjukkan bahwa masih ada konsumen yang percaya pada produk mobil listrik tersebut.
- Penjualan Neta V-II tercatat satu unit pada Mei 2026.
- Perusahaan induk Hozon Auto tengah menjalani proses restrukturisasi global.
- Neta Indonesia memastikan layanan purna jual dan garansi tetap berjalan normal.
- Persaingan segmen mobil listrik nasional semakin ketat dengan kehadiran pemain baru.
Dinamika Penjualan Di Tengah Restrukturisasi

Penjualan satu unit memang terlihat sangat kecil jika dibandingkan para pesaingnya di segmen kendaraan listrik. Namun angka tersebut menjadi menarik karena terjadi ketika Neta sedang menghadapi tantangan berat, mulai dari restrukturisasi global, penyesuaian operasional di berbagai negara, hingga berkurangnya jaringan dealer.
Neta masuk ke pasar pada 2023 dengan menawarkan mobil listrik yang menyasar segmen harga Rp200 juta hingga Rp300 juta. Strategi tersebut sebenarnya mirip dengan sejumlah merek lain yang sukses menarik perhatian konsumen. Namun perjalanan Neta ternyata tidak semulus kompetitornya. Kondisi finansial perusahaan induk, Hozon Auto, ikut mempengaruhi kinerja bisnis mereka di berbagai wilayah.
Meski demikian, Neta Indonesia berulang kali menegaskan bahwa mereka belum berencana meninggalkan pasar. Perusahaan menyebut proses restrukturisasi yang berlangsung di tingkat global merupakan langkah untuk memperkuat fondasi bisnis dalam jangka panjang.
Posisi Pasar Dan Tantangan Kompetitor
Di Indonesia, Neta V-II menjadi salah satu model utama yang dipasarkan selain Neta X. Menurut laporan Gaikindo, Neta X varian Elite dengan jarak tempuh 500 km laku 12 unit secara wholesales pada April 2026. Namun pada bulan lalu, model tersebut tidak mencatatkan penjualan sama sekali.
Mobil listrik ini dirakit secara lokal dan sempat menjadi andalan perusahaan untuk menjangkau konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik dengan harga relatif terjangkau. Dengan profil tersebut, model ini sebenarnya ditargetkan untuk penggunaan harian di jalur perkotaan yang padat.
Tantangan yang dihadapi Neta tidak hanya berasal dari sisi internal perusahaan. Persaingan pasar mobil listrik nasional juga semakin ketat. Kehadiran merek-merek baru, ditambah dominasi pemain yang lebih mapan seperti Wuling dan BYD, membuat ruang gerak Neta semakin sempit. Jika dibandingkan dengan model dari Wuling atau BYD, Neta kini harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan kepercayaan calon pembeli.
Komitmen Layanan Purna Jual
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, mengakui bahwa keberlangsungan bisnis Neta sepenuhnya bergantung pada keputusan perusahaan. Meski demikian, ia menilai kehadiran Neta tetap memberikan dampak positif bagi industri otomotif nasional, terutama dari sisi transfer teknologi dan pengalaman perakitan kendaraan listrik.
Selain memastikan bisnis tetap berjalan, Neta Indonesia juga menegaskan bahwa layanan purna jual masih tersedia. Perusahaan bekerja sama dengan sejumlah mitra servis dan menyatakan stok suku cadang tetap aman bagi konsumen. Kebijakan garansi kendaraan juga disebut tidak mengalami perubahan meski perusahaan tengah menjalani masa restrukturisasi.
Referensi: Neta | Otodream