Kabar Otomotif - Portal berita otomotif terlengkap menyajikan kabar terbaru mobil dan motor di Indonesia.
Suku Bunga Naik, Rupiah Loyo, Ekonom Ingatkan Hitung Ulang Biaya Sebelum Beli Mobil
11 Jun, 2026
Skutik ADV Honda HooRide 125 Pecahkan Dilema Bagasi dengan Flat Deck Praktis
11 Jun, 2026
Skutik Petualang China Ini Pakai Rantai, Bukan CVT Biasa
11 Jun, 2026
Knalpot Bising Dapat Tilang, Ukuran Desibel Ternyata Lebih Ketat dari Asumsi
11 Jun, 2026Berita Terbaru
- Mobil
- •
- 11 Jun, 2026
- •
- Nadia Paramita
Kebiasaan Panaskan Mesin Pagi Hari Justru Berdampak Buruk pada Mobil Listrik
Sebagai pengguna kendaraan bermesin bensin atau diesel, memanaskan mesin di pagi hari adalah ritual wajib yang sudah mendarah daging. Logikanya sederhana, kita ingin oli bersirkulasi sempurna sebelum mulai berkendara. Namun, kebiasaan ini kerap terbawa saat seseorang beralih ke mobil listrik. Pertanyaannya, apakah mobil listrik perlu dipanaskan? Jawabannya justru membuat banyak pemilik baru terkejut.Mobil listrik murni tidak memerlukan ritual pemanasan seperti mobil bensin atau dieselTorsi instan motor listrik sudah tersedia sejak detik pertama tanpa perlu menaikkan suhu kerjaSistem manajemen termal baterai bekerja otomatis tanpa perlu hitungan menit lamaMenyalakan AC atau pemanas kabin saat masih mengecas adalah cara terbaik menjaga kenyamanan tanpa menguras baterai di jalanFilosofi Pemanasan yang Tak Berlaku LagiMari kita bedah dulu mengapa mobil konvensional butuh dipanaskan. Mesin pembakaran internal terdiri dari komponen logam yang saling bergesekan. Oli perlu waktu untuk mencapai viskositas ideal agar bisa melapisi seluruh permukaan logam tersebut. Jika mesin langsung digeber saat dingin, risiko keausan komponen meningkat drastis.Logika ini sama sekali tidak relevan untuk mobil listrik. Motor elektrik tidak memiliki puluhan atau ratusan komponen kecil yang bergesekan secara mekanis seperti piston dan katup. Konstruksinya jauh lebih sederhana. Rotor yang berputar di dalam stator menghasilkan gerakan langsung tanpa perlu pelumasan oli mesin. Maka dari itu, tidak ada istilah memanaskan motor listrik agar oli bersirkulasi dulu.Listrik Tidak Membutuhkan PelumasanSalah satu kejutan terbesar bagi pemula adalah fakta bahwa mobil listrik bisa langsung digunakan begitu tombol start ditekan. Anda tinggal memindahkan tuas transmisi ke mode "D" dan melaju. Motor listrik langsung menyuplai torsi maksimum dari putaran rendah, persis seperti yang dibutuhkan di lalu lintas perkotaan yang kerap stop and go.Bahkan, membiarkan mobil listrik dalam kondisi menyala tanpa bergerak hanya akan membuang daya baterai untuk sistem kelistrikan dan AC. Tidak ada manfaat mekanis apapun yang didapat. Justru tindakan ini kontraproduktif karena mengurangi jarak tempuh yang seharusnya bisa Anda pakai untuk perjalanan.Baterai Punya Ritualnya SendiriMeski tidak butuh dipanaskan dalam artian memanaskan mesin, bukan berarti mobil listrik bebas dari manajemen suhu. Baterai lithium ion memiliki suhu kerja optimal. Terlalu dingin bisa menurunkan efisiensi pengisian dan pelepasan daya. Akan tetapi, cara kerjanya tidak seperti mesin bensin.Mobil listrik modern dibekali Battery Thermal Management System. Sistem ini secara otomatis akan memanaskan atau mendinginkan baterai menggunakan energi dari charger, atau dari baterai itu sendiri saat berkendara. Proses "thermal conditioning" ini terjadi di balik kap mesin tanpa perlu intervensi pengemudi. Anda tidak perlu menunggu jarum suhu naik ke level tertentu sebelum mulai jalan.Yang Justru Penting Dilakukan Pemilik EVMerujuk pada kebiasaan pengguna di negara dengan iklim dingin, yang sering dilakukan bukanlah memanaskan mesin, melainkan mengkondisikan kabin. Sebelum melepas konektor charger, pemilik biasanya menyalakan pemanas kabin atau AC terlebih dahulu sembari mobil masih mengecas. Ini berguna agar energi listrik dari rumah langsung dipakai untuk kenyamanan, bukan menggerus kapasitas baterai saat di jalan.Untuk konteks daerah dengan suhu hangat, prinsip yang sama tetap berlaku, terutama dalam mengelola suhu kabin. Anda cukup masuk ke mobil, hidupkan sistem, pastikan indikator "Ready" menyala tanpa suara mesin, lalu langsung berkendara. Adaptasi ini memang butuh waktu, tetapi sangat menenangkan karena Anda bisa pergi tanpa khawatir merusak komponen mekanis yang sebenarnya bahkan tidak ada di mobil tersebut.Referensi: VIVA Otomotif
- Berita
- •
- 10 Jun, 2026
- •
- Raka Wicaksono
Harley-Davidson Pulangkan Produksi Mesin Revolusi ke AS Demi Geser Image Global
Harley-Davidson mengambil langkah mengejutkan yang berlawanan dengan arus industri otomotif global. Di tengah tren pabrikan yang mengglobalisasi rantai pasok demi menekan biaya, pabrikan legendaris asal Milwaukee ini justru memutuskan menarik kembali produksi mesin andalan mereka ke Amerika Serikat.Harley-Davidson resmi memulangkan proses produksi mesin Revolution Max ke fasilitas mereka di Wisconsin dan Pennsylvania.Mesin V-Twin 1.250 cc berpendingin cairan ini menjadi jantung pacu model modern seperti Pan America, Nightster, dan Sportster S.Proses transisi akan dilakukan bertahap, dengan unit bermesin produksi AS siap dipasarkan sebagai model tahun 2028.Strategi ini bertujuan memperkuat identitas merek sekaligus meningkatkan efisiensi operasional jangka panjang perusahaan.Mesin Revolution Max jadi Tulang Punggung Lini ModernRevolution Max bukan sekadar mesin biasa dalam sejarah panjang Harley-Davidson. Jantung mekanis V-Twin berkapasitas 1.250 cc ini mewakili lompatan teknologi paling signifikan dari pabrikan yang selama puluhan tahun identik dengan mesin berkonfigurasi serupa namun berpendingin udara.Kehadiran pendingin cairan, output tenaga yang lebih bertenaga, serta karakter mesin yang lebih modern menjadikan platform ini fondasi bagi lini produk yang menyasar segmen lebih luas. Saat ini, mesin tersebut telah tertanam pada model adventure Pan America, naked sport Nightster, dan cruiser modern Sportster S.Menariknya, platform ini juga dirumorkan menjadi basis bagi beberapa model baru yang tengah dipersiapkan Harley-Davidson. Keputusan untuk memulangkan produksinya ke tanah air menandakan betapa krusialnya mesin ini dalam peta jalan perusahaan ke depan.Pabrik Wisconsin dan Pennsylvania Jadi Pusat BaruProses pemulangan produksi ini tidak main-main. Harley-Davidson berencana mengonsolidasikan seluruh tahapan manufaktur krusial, mulai dari permesinan komponen, perakitan powertrain, pengecatan, hingga perakitan akhir kendaraan.Fasilitas yang berlokasi di Wisconsin dan Pennsylvania akan menjadi pusat gravitasi baru bagi operasi ini. Perusahaan menargetkan transisi berjalan secara bertahap sebelum motor-motor dengan mesin produksi Amerika itu resmi meluncur sebagai model tahun 2028.Kebijakan ini menjadi sebuah anomali di kala banyak kompetitor justru memperluas pabrik mereka di berbagai kawasan untuk memangkas ongkos produksi. Harley-Davidson tampak mengambil kalkulasi berbeda dengan memprioritaskan nilai intrinsik dari label produksi domestik.Amerikanisasi Mesin Demi Identitas dan EfisiensiBagi perusahaan yang telah eksis lebih dari satu abad, keputusan ini bukan semata soal logistik dan biaya manufaktur. Ada upaya kuat untuk memperkokoh citra sebagai merek sejati Amerika, identitas yang selama ini melekat erat dengan warisan industri negeri Paman Sam.Langkah ini hadir bersamaan dengan upaya Harley-Davidson membalikkan kondisi bisnis yang sempat terseok. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka getol mencari formula guna menjaring konsumen yang lebih muda, salah satunya melalui produk petualang seperti Pan America yang mewakili wajah progresif pabrikan.Menjadikan mesin Revolution Max kembali diproduksi di dalam negeri menjadi simbol kuat bahwa transformasi perusahaan tidak otomatis menghilangkan akar sejarah mereka. Ini adalah sinyal bahwa teknologi modern dan warisan manufaktur bisa berjalan beriringan di bawah satu atap yang sama.Model Tahun 2028 Jadi Tonggak Produksi DomestikKonsumen global baru akan bisa merasakan langsung unit bermesin produksi Amerika ini saat model tahun 2028 mulai menyambangi dealer. Mesin yang menjadi wajah baru Harley-Davidson itu akan segera pulang kampung, membawa serta narasi besar tentang identitas dan kemandirian produksi.Referensi: Harley-Davidson | VIVA Otomotif
- Mobil
- •
- 10 Jun, 2026
- •
- Nadia Paramita
Mobil Listrik China Justru Makin Laris Saat Insentif Dipangkas
Banyak negara masih bergantung pada insentif dan subsidi besar-besaran untuk memancing konsumen beralih ke kendaraan listrik. Namun, pasar China justru menunjukkan gejala yang berkebalikan. Saat berbagai stimulus fiskal mulai dikurangi pemerintah, minat konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi justru melonjak signifikan.Mobil listrik kuasai hampir dua pertiga total penjualan otomotif di ChinaPersaingan harga antarpabrikan bikin kendaraan listrik semakin terjangkauBiaya operasional harian yang lebih rendah jadi daya tarik utamaProdusen global lewat usaha patungan ikut menikmati lonjakan permintaanDari Insentif ke Kesadaran: Pasar yang Mulai DewasaFase awal adopsi kendaraan listrik di berbagai belahan dunia memang masih ditopang oleh keringanan pajak dan subsidi langsung. China pun memulainya dari sana. Tapi data terbaru menunjukkan lanskap yang berubah total.Kendaraan energi baru yang mencakup mobil listrik murni, plug-in hybrid, dan range extender dilaporkan sudah menguasai hampir dua pertiga dari total penjualan otomotif di pasar domestik China. Di sisi lain, mobil-mobil bermesin bensin dan diesel tradisional terus kehilangan pangsa secara konsisten.Pergeseran ini bukan semata karena harga setelah subsidi yang lebih murah. Konsumen kini beralih karena membandingkan total biaya kepemilikan. Pengeluaran harian untuk energi mobil listrik dianggap jauh lebih mudah diprediksi dan rendah, terutama di tengah fluktuasi harga BBM global.Perang Harga dan Pilihan Model yang Kian VariatifSalah satu pendorong utama di balik terus naiknya penjualan adalah agresivitas para produsen dalam menekan harga jual. Persaingan antar merek lokal di China sangat ketat, memaksa setiap pabrikan untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif serta fitur yang lebih melimpah.Dampaknya, konsumen bisa memilih dari spektrum model yang jauh lebih luas. Mulai dari mobil listrik mungil untuk kebutuhan komuter perkotaan, sedan, MPV untuk keluarga, hingga SUV premium berteknologi tinggi. Variasi ini membuat transisi ke kendaraan listrik terasa lebih natural karena setiap segmen kebutuhan sudah terwakili.Merek Patungan Global Ikut Terdampak PositifMenariknya, efek domino ini tidak hanya dirasakan oleh merek-merek lokal China. Pabrikan global yang sejak lama hadir lewat skema usaha patungan juga merasakan pergeseran drastis pada bauran penjualan mereka.Data menunjukkan bahwa model-model listrik dari pabrikan global ini mencatat pertumbuhan penjualan yang pesat. Sebaliknya, lini produk konvensional bermesin bakar internal mereka terus merosot. Bahkan di segmen mobil premium dan SUV besar, konsumen yang dulunya identik memilih mesin berkapasitas besar kini mulai melirik opsi elektrifikasi yang menawarkan torsi instan tanpa kompromi performa.Ini menegaskan bahwa elektrifikasi di pasar otomotif China sudah menyeberang dari segmen kendaraan kota murah ke segmen mobil mewah.Biaya Operasional Jadi Alasan Rasional KonsumenJika di masa lalu pembelian mobil listrik didorong oleh insentif fiskal dan tren ">ramah lingkungan", kini pertimbangannya lebih membumi. Konsumen menghitung biaya harian yang harus dikeluarkan dari kantong sendiri.Mengisi daya listrik di rumah atau di stasiun pengisian umum terbukti menghasilkan penghematan yang lebih terasa dibandingkan harus bolak-balik mengisi bensin, apalagi ketika harga minyak mentah global sedang tidak stabil. Faktor ini membuat kendaraan listrik tidak lagi terlihat sebagai produk idealis, melainkan pilihan ekonomi yang logis untuk mobilitas sehari-hari.Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa pasar otomotif China sedang memasuki babak baru. Daya tarik produk, kalkulasi efisiensi penggunaan, serta kemajuan teknologi sudah menggantikan subsidi sebagai alasan utama masyarakat beralih ke kendaraan listrik.Referensi: Carnewschina | Viva
- Berita
- •
- 10 Jun, 2026
- •
- Nadia Paramita
GAC Resmi Produksi Taksi Terbang Listrik Tanpa Pilot, Harganya Tembus Rp3,8 Miliar
Pernah membayangkan terjebak macet lalu berharap kendaraan bisa langsung terbang? Guangzhou Automobile Group (GAC) tampaknya sudah tidak ingin menjawab pertanyaan itu sekadar lewat mimpi. Raksasa otomotif China ini resmi memulai produksi kendaraan terbang listrik bernama AirCab, menandai langkah paling serius dari pabrikan mobil yang merangsek ke industri penerbangan komersial jarak pendek.AirCab adalah kendaraan terbang listrik tipe eVTOL yang diproduksi di bawah merek Govy milik GACSudah memasuki tahap produksi dengan target kapasitas sekitar 100 unit per tahunDibekali teknologi penerbangan otonom Level 4, beroperasi tanpa pilot di dalam kabinDibanderol mulai 1,68 juta yuan atau setara lebih dari Rp3,8 miliar untuk pasar ChinaPengisian daya cepat diklaim hanya 25 menit berkat baterai silinder berkepadatan tinggiMengusung bodi serat karbon ringan dengan konfigurasi enam lengan dan dua belas baling-balingDari Jalan Raya Menuju Langit, Bukan Sekadar KonsepLangkah GAC ini cukup mengejutkan. Tidak seperti proyek kendaraan terbang lain yang masih berkutat di meja gambar atau video animasi, AirCab benar-benar sudah menggelinding dari jalur produksi. Pabrikan yang dikenal lewat jajaran mobil listrik dan SUV-nya ini menunjukkan bahwa ambisi mobilitas masa depan kini tidak lagi memiliki batas antara aspal dan awan.Kendaraan ini masuk dalam kategori electric Vertical Take-Off and Landing atau eVTOL. Artinya, ia bisa lepas landas dan mendarat secara vertikal seperti helikopter, namun ditenagai motor listrik sehingga jauh lebih senyap. Konsepnya mirip seperti robotaxi nirawak yang kini mulai diuji di banyak kota besar dunia, hanya saja AirCab beroperasi di udara.Yang membuatnya semakin berbeda, GAC sudah menjalani berbagai tahapan pengujian serius untuk model ini. Mulai dari uji tabrak hingga proses sertifikasi penerbangan komersial telah dilalui. Bahkan demonstrasi terbang sudah dipamerkan di kawasan Guangdong-Hong Kong-Macao Greater Bay Area, semacam etalase segitiga emas ekonomi China yang menjadi tempat ideal membuktikan kesiapan teknologinya.Otonom Tanpa Pilot, Bodi Ringan Berbahan KarbonMelihat wujudnya, AirCab tampil kompak dengan enam lengan menjulur dari kabin utamanya. Tiap lengan dilengkapi dua baling-baling listrik, total dua belas unit yang bertanggung jawab mengangkat dan mendorong kendaraan ini melintasi udara. Seluruh struktur bodi mengandalkan material serat karbon, bukan sekadar untuk pamer teknologi mahal, melainkan menjaga bobot seringan mungkin agar efisiensi daya tetap optimal.Soal pengendalian, di sinilah lompatan besar terjadi. AirCab tidak membutuhkan pilot profesional seperti helikopter konvensional. GAC menyematkan teknologi penerbangan otonom Level 4 yang artinya nyaris seluruh proses terbang, mulai dari lepas landas, navigasi rute, hingga pendaratan, diambil alih oleh sistem komputer cerdas. Manusia di dalam kabin hanyalah penumpang.Ini menjadikan AirCab sebagai jawaban bagi perusahaan wisata atau operator transportasi yang ingin menawarkan layanan udara jarak pendek tanpa perlu pusing merekrut dan melatih penerbang bersertifikasi. Toh, target pasar utamanya memang bukan individu biasa yang ingin memarkir "mobil terbang" di garasi rumah.Isi Daya 25 Menit, Fokus Jadi Kendaraan Wisata UdaraUntuk sumber energinya, AirCab dibekali baterai silinder berkepadatan tinggi. Klaim GAC cukup menggiurkan: waktu pengisian dari kosong hingga penuh hanya sekitar 25 menit. Ini adalah metrik yang krusial untuk kendaraan terbang komersial yang harus bisa beroperasi dengan jeda seminim mungkin di antara penerbangan. Semakin singkat waktu ngecas, semakin banyak trip wisata yang bisa dijual dalam sehari.Sayangnya, GAC masih merahasiakan jarak tempuh maksimal yang bisa dicapai dalam satu kali pengisian daya. Informasi ini tentu menjadi kunci, terutama bagi calon operator yang perlu menghitung rute dan potensi revenue. Namun arah pengembangannya sudah jelas: AirCab bukan didesain sebagai transportasi massal antar kota, melainkan untuk sektor pariwisata dan layanan wisata udara jarak pendek.Bayangkan rute melintasi gedung-gedung pencakar langit di kawasan Greater Bay Area, atau pemandangan kota metropolitan dari ketinggian yang sebelumnya hanya bisa dinikmati lewat helikopter sewaan mahal. Itulah ceruk yang sedang dibidik GAC lewat Govy.Harga Supercar, Pelanggan Utama Operator ProfesionalLalu siapa kira-kira yang akan membeli AirCab? Jelas bukan untuk komuter harian yang mencari alternatif dari motor matic atau mobil LCGC. GAC memasang banderol mulai 1,68 juta yuan untuk pasar China, yang jika dikonversi setara lebih dari Rp3,8 miliar. Angka ini menyejajarkan AirCab dengan harga sejumlah mobil sport premium atau supercar yang selama ini hanya menjadi pajangan kolektor.Dengan harga setinggi itu, pembeli perorangan memang mungkin ada, tapi GAC memproyeksikan pelanggan utamanya adalah operator wisata, perusahaan transportasi swasta, atau pengelola kawasan eksklusif yang ingin menambah pengalaman unik bagi tamu mereka. Bukan alat transportasi sehari-hari, melainkan atraksi premium yang menjual sensasi.Di titik inilah GAC berusaha membedakan diri dari pemain eVTOL lain yang masih berkutat dengan pencarian pendanaan atau prototipe awal. Produksi 100 unit per tahun mungkin terdengar kecil untuk ukuran pabrikan mobil, tapi di industri penerbangan komersial yang serba ketat, angka itu justru menunjukkan keseriusan.Potensi Rilis di IndonesiaMeski belum ada rencana resmi membawa AirCab ke luar China, peluangnya tetap menarik dicermati. Destinasi wisata premium seperti Bali, Labuan Bajo, atau Mandalika bisa menjadi pasar potensial untuk kendaraan semacam ini. Operator tur helikopter yang selama ini menggunakan mesin konvensional bisa jadi akan dilirik sebagai target awal adopsi eVTOL di masa depan.Regulasi tentu menjadi tantangan terbesar. Izin terbang, sertifikasi kelaikan, hingga zonasi rute di atas kawasan padat penduduk harus diselesaikan sebelum kendaraan nirawak semacam ini bisa beroperasi. Namun sinyal dari China sudah jelas: pabrikan otomotif tidak lagi hanya berebut pasar di darat, kini langit pun menjadi medan pertarungan selanjutnya.Referensi: GAC | VIVA Otomotif
- Mobil
- •
- 10 Jun, 2026
- •
- Raka Wicaksono
Mitsubishi Eclipse Bangkit Sebagai SUV Listrik, Hilangkan Semua DNA Sport-nya
Pecinta kecepatan era 1990-an mungkin akan mengucek mata saat mendengar kabar ini. Mitsubishi resmi membangkitkan nama legendaris Eclipse, namun bukan sebagai penerus coupe sport dua pintu yang pernah berjaya di lintasan balap. Pabrikan tiga berlian itu justru menyulapnya menjadi SUV listrik murni yang efisien dan jauh dari kata agresif.Nama legendaris Mitsubishi Eclipse kembali hadir setelah lama menghilang dari pasar global.Berubah total dari sport coupe dua pintu menjadi SUV listrik kompak dan ramah lingkungan.Merupakan hasil kerja sama OEM Mitsubishi dengan Nissan untuk pasar Amerika Utara.Mulai dipasarkan pada paruh kedua tahun 2026 sebagai kendaraan listrik baterai penuh.Dari Legenda Aspal Menjadi Kendaraan HijauBagi penggemar film balap dan video game awal 2000-an, Eclipse generasi pertama hingga keempat dikenal sebagai monster jalanan yang siap dimodifikasi. Namun kini Mitsubishi memilih jalan yang berbeda. Eclipse Sportback terbaru dirancang sebagai kendaraan listrik baterai yang mengutamakan kepraktisan harian di segmen SUV kompak, menjawab tingginya permintaan pasar Amerika Serikat dan Kanada.Keputusan mempertahankan nama Eclipse jelas memanfaatkan nilai historis yang kuat. Di tengah persaingan ketat pabrikan mobil listrik, nama yang sudah melekat di benak konsumen menjadi strategi ampuh untuk menarik perhatian, meski filosofi performa beringasnya telah berganti menjadi efisiensi dan mobilitas hijau.Sentuhan Desain Mitsubishi di Platform NissanMenariknya, Mitsubishi tidak membangun Eclipse Sportback seorang diri. Model ini lahir dari skema aliansi dengan Nissan, berbagi platform teknis untuk mempercepat pengembangan produk elektrifikasi. Meski basisnya berasal dari saudara satu aliansi, tim desain tetap menyuntikkan karakter khas.Perbedaan signifikan terlihat pada ubahan total di bagian bumper depan dan belakang, grille, lampu utama, serta lampu belakang. Bahkan desain pelek dan pintu bagasi juga mendapatkan sentuhan eksklusif agar identitas Mitsubishi tetap tampak meski berbagi basis dengan model pabrikan lain.Strategi Aliansi untuk Mempercepat Dominasi EVKehadiran model ini memperlihatkan strategi baru pabrikan berlogo tiga berlian dalam mengejar ketertinggalan di segmen kendaraan listrik. Dengan memanfaatkan kerja sama OEM, Mitsubishi tak perlu merancang mobil dari nol. Langkah ini terbilang pragmatis untuk memperluas jajaran SUV listrik mereka sambil tetap menjaga modal riset dan pengembangan tetap efisien.Fokus utama mobil ini bukan lagi top speed atau handling di tikungan tajam, melainkan konsumsi daya yang rendah serta kemudahan manuver di perkotaan. Transformasi ini mencerminkan wajah baru industri otomotif global yang kian meninggalkan era mesin pembakaran internal bertenaga besar.Peluang SUV Listrik Bernuansa Klasik di Asia TenggaraMeski saat ini peluncurannya dikonfirmasi terbatas untuk wilayah Amerika Utara, pergerakan Mitsubishi di segmen SUV listrik patut menjadi perhatian pasar Indonesia. Pasar Tanah Air yang sedang bergairah terhadap model SUV dan perlahan mulai menerima elektrifikasi bisa menjadi lahan potensial di masa depan, terutama jika pabrikan membawa produk sejenis dengan harga lebih terjangkau.Jika nama ikonik Eclipse masih sanggup membangkitkan rasa penasaran, bukan tidak mungkin kita akan melihat varian setir kanan dari SUV elektrifikasi ini meluncur di Asia Tenggara pada tahun-tahun mendatang.Referensi: Mitsubishi | VIVA Otomotif