Kabar Otomotif - Portal berita otomotif terlengkap menyajikan kabar terbaru mobil dan motor di Indonesia.
Skutik 160cc Honda Jawab Masalah Mesin Kurang Bertenaga di Kelas Retro
12 Jun, 2026
Pindad Bongkar Alasan Sunroof Maung Garuda Baru Dipasang Menjelang Pelantikan
12 Jun, 2026
Yamaha Akui Sengaja Tahan Rupa Baru MX King, Cuma Sajikan Livery Langka 2.000 Unit
12 Jun, 2026
F1 Kurangi Tenaga Listrik, Mesin V6 Bakal Lebih Buas Mulai 2027
12 Jun, 2026Berita Terbaru
- Mobil
- •
- 12 Jun, 2026
- •
- Nadia Paramita
Harga LCGC Makin Menjauh dari Kantong Kelas Menengah, Kini Tembus Rp200 Jutaan
Pernahkah Anda bertanya, mengapa mobil yang dilabeli ‘murah dan ramah lingkungan’ justru kian sulit dijangkau? Ironi ini tengah dihadapi segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang notabene diciptakan untuk mengakomodasi daya beli kelas menengah. Alih-alih menjadi penyelamat mobilitas keluarga muda, banderolnya merangkak naik hingga menyentuh angka yang beberapa tahun lalu adalah harga sebuah Low MPV.Langit-langit Harga Jebol: Beberapa varian tertinggi LCGC kini menembus Rp200 jutaan, menjauhi prinsip keterjangkauan yang diusung pemerintah.Daya Beli Menurun: Data wholesales Januari-April 2026 menunjukkan penurunan pasar LCGC hingga 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Opsi Mulai dari Rp140 Jutaan: Meski begitu, masih ada pilihan entry-level seperti Daihatsu Ayla 1.0 M M/T yang menjadi benteng terakhir mobilitas terjangkau.Ancaman Listrik Murah: Keberadaan mobil listrik asal China seperti BYD Atto 1 yang dibanderol Rp199 juta kian menggerus relevansi LCGC.Ketika Harga Pasar Melampaui Konsep AwalToyota Calya. (Photo: Toyota)Konsep awal LCGC begitu mulia: memproduksi kendaraan efisien dengan harga yang bisa dicapai oleh pekerja urban dan keluarga muda. Sayangnya, realitas di lapangan berkata lain. Harga yang disarankan pemerintah kini seperti angin lalu. Tengok saja varian teratas Honda Brio Satya E CVT yang sudah menembus Rp206,7 juta, atau Toyota Agya Stylix 1.2 G CVT di angka Rp201,2 juta.Level harga ini menempatkan LCGC dalam posisi riskan. Sebab, dengan merogoh kocek serupa, konsumen sudah mulai bisa mengintip ke segmen yang lebih tinggi, atau beralih ke kendaraan listrik yang menawarkan kabin lebih lapang dan fitur lebih mutakhir.Daftar Harga Terbaru, Siapa yang Masih Rasional?Meski harga melonjak, diferensiasi tetap terasa di antara para pemain. Berikut rincian on the road yang perlu Anda cermati sebelum memutuskan untuk memboyong salah satunya:Paling Terjangkau: Benteng Terakhir DaihatsuJika bujet Anda sangat terbatas, duo Daihatsu masih menawarkan secercah harapan. Ayla 1.0 M M/T dibanderol Rp140,2 juta dan Sigra 1.0 D MT MC di harga Rp143,2 juta. Tentu, Anda harus merelakan fitur dan sensasi transmisi manual demi logika keuangan yang sehat.Pilihan Hatchback: Antara Gengsi dan RasionalitasUntuk Anda yang mencari lincah di perkotaan, kompetisi antara Toyota Agya, Daihatsu Ayla, dan Honda Brio Satya cukup sengit. Agya 1.2 E M/T dijual Rp173,8 juta, sedikit lebih mahal dari kembarannya, Ayla 1.2 R M/T di Rp170,2 juta. Sementara Brio Satya S M/T meluncur di harga Rp170,4 juta. Namun, ketika beralih ke transmisi otomatis, biaya yang harus ditebus cukup signifikan, contohnya Agya 1.2 G CVT di Rp197,7 juta.Kebutuhan Keluarga: Saat Muatan Jadi PrioritasBagi yang kerap membawa lebih banyak penumpang, Toyota Calya dan Daihatsu Sigra adalah opsi logis. Calya 1.2 E STD M/T bisa dibawa pulang dengan Rp170,2 juta. Varian tertinggi Calya, yakni 1.2 G A/T Basic, kini berada di level Rp193,2 juta. Sementara itu, untuk kenyamanan transmisi otomatis di keluarga Sigra, Anda harus menyiapkan anggaran mulai dari Rp174,8 juta untuk Sigra 1.2 X AT MC.Bayang-bayang Maut dari Negeri Tirai BambuMasalah terbesar LCGC saat ini bukan hanya harga komoditas atau pajak, melainkan ancaman eksternal. Mobil listrik murah asal China kini menawarkan proposisi nilai yang sulit ditolak: harga serupa dengan fitur lebih lengkap dan tanpa suara mesin bising. BYD Atto 1 yang sempat menyita perhatian dengan banderol awal Rp199 juta menjadi penantang serius yang membuat calon pembeli LCGC kelas atas berpikir dua kali.Secara tidak langsung, ini memaksa pabrikan Jepang untuk mengevaluasi ulang strategi segmen murah mereka. Jika tidak, gelar mobil rakyat bisa benar-benar hanya tinggal kenangan.Referensi: Otodream
- Motor
- •
- 12 Jun, 2026
- •
- Nadia Paramita
Suzuki Burgman Street 125 2026 Bawa Ubahan Strategis, Bagasi Membengkak Jadi 24.6 Liter
Butuh skutik harian yang ramping tapi ogah tampil pasaran? Suzuki sepertinya mendengar kegelisahan itu lewat penyegaran Burgman Street 125. Model 2026 ini dapat polesan lumayan signifikan, bukan cuma ganti stiker.Harga di India mulai Rp35 jutaan untuk varian Ride Connect EditionBagasi kini menampung 24.6 liter, lebih luas dari rata-rata skutik sekelasVarian termahal dapat panel instrumen TFT dan kunci keylessMesin 124cc dipertahankan, fokus pada kehalusan dan efisiensi bahan bakarPesona Skutik Bongsor yang Mulai MenajamDesain baru Suzuki Burgman Street 125 2026 menampilkan grafis lampu depan dual-eye yang modern. (Photo: Suzuki)Buat yang belum kenal, Suzuki Burgman Street 125 selalu punya tempat unik. Ia bukan skutik lincah bergaya sporty, melainkan mengusung DNA maxi-scooter dalam bodi mungil. Posturnya terlihat lebih dewasa dan meyakinkan di aspal.Untuk model 2026, aura premium itu kian terasa. Perubahan paling kentara jatuh pada desain lampu depan. Grafisnya kini pakai konsep dual-eye yang lebih tajam. Sorotannya dibuat lebih modern tanpa menghilangkan identitas Burgman yang gemuk dan nyaman.Kesan pertama yang ditimbulkan solid: ini motor untuk mereka yang mementingkan kenyamanan dan wibawa saat menyusuri jalanan macet, bukan sekadar mengejar kecepatan.Akhirnya, Bagasi Tak Lagi Jadi Bahan KeluhanPostur Suzuki Burgman Street 125 mempertahankan aura skutik bongsor yang lega namun tetap kompak di kelas 125cc. (Photo: Suzuki)Kelemahan klasik skutik kerap ada di kapasitas penyimpanan. Suzuki merespons ini dengan langkah strategis pada Burgman Street 125 2026. Mereka memindahkan lubang pengisian bensin dari depan ke area belakang, tepat di bawah lampu.Hasilnya brillian. Area di bawah jok kini bisa lega tanpa terganggu leher tangki. Kapasitasnya langsung melonjak jadi 24.6 liter. Angka ini sangat besar untuk ukuran motor 125cc. Anda bisa menyimpan helm half-face, jas hujan, dan barang bawaan lain tanpa drama. Bagi komuter harian, ini adalah peningkatan fungsional yang paling terasa manfaatnya.Varian Termahal Kini Melek TeknologiVarian Ride Connect TFT Edition memperoleh panel instrumen layar sentuh penuh warna untuk konektivitas modern. (Photo: Suzuki)Suzuki mulai sadar, pengguna skutik masa kini menjadikan konektivitas sebagai kebutuhan primer. Untuk itu, varian tertinggi Ride Connect TFT Edition dibekali panel instrumen layar sentuh penuh warna. Tampilannya informatif, dan bisa terhubung ke ponsel lewat aplikasi Ride Connect.Urusan menyalakan mesin juga lebih praktis berkat smart key system. Sementara varian di bawahnya, Ride Connect Edition, menawarkan fitur konektivitas inti serupa tapi dengan panel instrumen yang lebih konvensional. Strategi ini memudahkan Anda memilih sesuai anggaran tanpa harus kehilangan fitur penting.Performa Mesin yang Tidak Berubah, Apakah Masalah?Dengan kapasitas 24.6 liter, bagasi Burgman Street 125 2026 kini lebih fungsional berkat reposisi tangki bensin. (Photo: Suzuki)Di sektor jantung mekanis, Suzuki memilih jalur konservatif. Mesin 124cc SOHC bersuara halus masih jadi andalan. Tenaga puncaknya ada di 6.2 kW pada 6.500 rpm dengan torsi 10.2 Nm di 5.250 rpm. Bukan angka yang bikin merinding, tapi ini pilihan logis.Sasis dan mounting mesin justru mendapat penyempurnaan untuk meredam getaran. Tujuannya jelas: menciptakan sensasi berkendara yang lebih mulus dan minim lelah saat dipakai menembus kemacetan stop and go. Konsumsi bensin juga dijamin tetap irit, menjaga biaya operasional harian tetap rendah.Fitur Harian yang Memudahkan AktivitasKepraktisan scooternya diperkuat berbagai fitur kecil yang esensial. Port USB untuk isi ulang daya ponsel tersedia. Ada juga parking brake lock yang sangat membantu saat parkir di tanjakan. Tidak ketinggalan, hook ganda di depan untuk menggantung tas belanja, serta side stand engine cut-off sebagai fitur keamanan dasar.Untuk urusan pengereman, memang masih mengandalkan sistem Combi Brake System (CBS) dan bukan ABS. Peleknya juga masih mempertahankan ukuran 12 inci. Ini adalah kompromi yang wajar untuk menjaga banderol harga tetap kompetitif dan tidak meroket tinggi.Pendekatan Harga yang Sadar Diri di IndiaDi pasar India, Suzuki memasarkan dua varian dengan patokan harga yang cukup bersahabat. Varian Ride Connect Edition dibanderol mulai 101.944 Rupee, atau setara Rp35,2 jutaan. Lalu varian Ride Connect TFT Edition yang lebih komplet dipatok 113.220 Rupee, sekitar Rp39,7 jutaan.Melihat perbedaan aksesori antara kedua tipe, selisih harga tersebut cukup masuk akal. Dengan biaya kepemilikan yang rendah dan ketersediaan suku cadang Suzuki yang masif, model ini jadi prospek menarik sebagai kendaraan tunggal harian. Saat ini belum ada sinyal resmi motor ini akan mengaspal di Tanah Air, namun potensinya untuk melengkapi segmen skutik bongsor jelas patut diperhitungkan.Referensi: Suzuki | GreatBiker
- Berita
- •
- 12 Jun, 2026
- •
- Raka Wicaksono
Pemerintah Siapkan Jurus Jitu Jaga Daya Beli Saat Harga Pertamax Melonjak Jadi Rp16.250
Kenaikan harga bahan bakar minyak non subsidi resmi berlaku. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhirnya angkat suara dan memberi sinyal bahwa pemerintah sedang merancang skema insentif untuk meredam gejolak daya beli masyarakat.Harga Pertamax kini dipatok Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green menyentuh Rp17.000 per liter.Pemerintah klaim penyesuaian ini murni mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia dan kondisi geopolitik global.Bahlil menjamin harga BBM bersubsidi dipastikan tidak akan mengalami kenaikan sepeser pun.Sejumlah insentif sedang digodok untuk melindungi ekonomi rumah tangga dari efek domino kenaikan harga energi.Pertamina menegaskan kebijakan ini diambil dengan tetap mempertimbangkan kemampuan beli konsumen.Bahlil Pastikan Harga Pasar dan Subsidi AmanIlustrasi pengisian BBM di SPBU Pertamina. (Photo: Pertamina)Melontarkan pernyataan di Kompleks Istana Kepresidenan, Bahlil menegaskan bahwa harga BBM non subsidi memang harus bergerak mengikuti mekanisme pasar. Menurutnya, langkah Pertamina dan pelaku usaha swasta lain sudah melalui perhitungan yang bijak. Namun, ia juga menyadari bahwa perubahan harga selalu menyita perhatian publik."Harga yang nonsubsidi itu menyesuaikan dengan harga pasar yang ada," ujar Bahlil. Di tengah transisi ini, fokus pemerintah bukan hanya pada harga jual, tetapi juga bagaimana menjaga kestabilan ekonomi lapisan bawah. Untuk itu, pembahasan agar harga BBM subsidi tidak naik menjadi prioritas utama yang sedang dimatangkan.Arah Baru Pertamina di Tengah Gejolak GlobalDirektur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, dalam siaran resminya menjelaskan bahwa keputusan ini tidak bisa dilepaskan dari eskalasi ketegangan geopolitik. Fluktuasi harga minyak internasional memaksa adanya restrukturisasi harga agar rantai pasok tetap berjalan sehat. Meski begitu, Simon menekankan bahwa daya beli masyarakat tetap menjadi faktor dalam setiap kebijakan perusahaan.Kini, Pertamax resmi melonjak dari harga sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Adapun Pertamax Green yang semula dibanderol Rp12.900 kini melesat ke angka Rp17.000 per liter. Dengan skema insentif yang masih dalam tahap finalisasi, Bahlil berharap dinamika ini tidak lantas memukul mundur konsumsi rumah tangga. Ia pun menyatakan akan terus berkoordinasi dengan para pelaku usaha untuk menekan potensi kenaikan di komoditas energi lain.Referensi: Pertamina | Otodream
- Mobil
- •
- 12 Jun, 2026
- •
- Nadia Paramita
Denza Z Pecahkan Anggapan Miring, Supercar Listrik 1.582 DK Ini Siap Libas 350 Km/Jam
Selama ini, mendengar nama Denza mungkin langsung membayangkan MPV premium atau SUV keluarga besar yang nyaman. Namun, pabrikan di bawah naungan BYD ini baru saja membalikkan semua ekspektasi. Mereka menyiapkan sebuah kejutan yang membuat kita perlu menata ulang cara pandang terhadap kemampuan pabrikan China.Calon supercar listrik terkuat BYD dengan nama Denza Z bocor jelang peluncuran Juli 2026Ditenagai tiga motor listrik berpadu menghasilkan total tenaga dahsyat hingga 1.582 daya kudaVarian tertinggi diklaim mampu menembus kecepatan puncak 350 km/jam berkat paket aerodinamika spesialTersedia dua pilihan bodi, convertible atap terbuka dan roadster atap tertutup, dengan konfigurasi empat kursiDibekali suspensi aktif DiSus-M dan sistem bantuan mengemudi DiPilot 5.0 sebagai penyeimbang performa ekstremKetika Denza Tak Lagi Soal Kenyamanan KeluargaBocoran ini bermula dari dokumen homologasi pemerintah China yang mengungkap deretan spesifikasi teknis Denza Z. Perbedaan paling mencolok langsung terasa pada pendekatan desainnya. Jika biasanya Denza identik dengan siluet kotak dan ruang kabin lega, Z justru tampil dengan postur rendah, kap mesin panjang membentang, serta lekukan bodi lebar agresif.Kesan sporty semakin kental berkat fasia depan yang meruncing dan pilihan tampilan belakang yang dramatis. Tampaknya, divisi desain Denza tidak main-main dalam menerjemahkan bahasa performa tinggi pada kendaraan ini. Menariknya, di balik sosok supercar yang biasanya mengorbankan kepraktisan, Denza Z justru menawarkan kabin dengan empat tempat duduk penuh.Tiga Motor Listrik dan Logika di Balik Angka 1.582 DKJantung mekanis Denza Z adalah konfigurasi tiga motor listrik yang penempatannya terbagi secara strategis. Satu unit motor bertenaga 670 dk bertugas menggerakkan roda depan. Sementara itu, dua motor lainnya ditempatkan di belakang dengan total tenaga gabungan mencapai 912 dk. Paduan ini menghasilkan output puncak 1.582 daya kuda.Angka ini bukan sekadar besar di atas kertas. Dalam praktiknya, torehan tersebut membuat akselerasi 0 hingga 100 km/jam dituntaskan hanya dalam waktu sekitar dua detik. Ini adalah wilayah catatan waktu yang selama ini hanya dihuni oleh hypercar bermesin konvensional dengan harga selangit.Untuk menyalurkan tenaga sebesar itu dengan aman, Denza membekali mobil ini dengan dua level kemampuan kecepatan puncak. Versi standar dibatasi di 300 km/jam, sementara varian dengan paket aerodinamika khusus mampu melesat hingga 350 km/jam. Perbedaan ini bukan hanya soal elektronik, melainkan juga kehadiran fisik berupa bumper agresif dan spoiler belakang raksasa yang meningkatkan daya tekan ke aspal.Teknologi Peredam dan Bantuan Mengemudi Jadi Otak PenyeimbangMenggabungkan tenaga dahsyat dengan mobil yang bisa dikendalikan sehari-hari adalah tantangan besar. Rupanya, para insinyur Denza sudah memikirkan ini dengan menyematkan suspensi aktif DiSus-M. Sistem ini bekerja secara adaptif menyesuaikan karakter peredaman terhadap kondisi permukaan jalan dan gaya mengemudi pengguna.Ini berarti, mobil tidak akan selalu terasa kaku seperti supercar pada umumnya saat diajak melintasi jalan perkotaan yang tidak rata. Dari sisi keselamatan dan kepraktisan, Denza Z mengandalkan DiPilot 5.0, sistem bantuan mengemudi paling mutakhir milik BYD. Kehadirannya menjadi krusial untuk membantu pengemudi mengelola potensi performa liar yang tersimpan di pedal akselerator.Meski demikian, BYD masih menyimpan rapat informasi mengenai kapasitas baterai dan seberapa jauh jarak tempuhnya dalam sekali pengisian. Kehadiran teknologi pengisian cepat sudah dipastikan, tetapi detail teknisnya belum diungkap.Potensi Rilis dan Peta Persaingan Supercar ListrikDenza Z dijadwalkan meluncur resmi untuk pasar China pada Juli 2026. Kehadirannya menandai babak baru di mana pabrikan China tidak lagi terpaku pada produksi mobil listrik rakyat atau SUV keluarga. Mereka kini berani menantang dominasi pabrikan Eropa di arena mobil performa tinggi.Jika spesifikasi yang bocor ini benar-benar terealisasi tanpa banyak perubahan, Denza Z berpotensi menjadi mobil listrik paling bertenaga yang pernah dirakit oleh grup BYD. Lebih dari itu, kendaraan ini bisa menjadi penantang serius di kelas supercar listrik dunia dan memaksa para pesaing untuk menawarkan sesuatu yang lebih.Referensi: BYD | VIVA
- Mobil
- •
- 12 Jun, 2026
- •
- Nadia Paramita
MPV Hybrid 7-Seater Rp298 Juta Bikin Mobil Keluarga Konvensional Mulai Tergeser
Buat keluarga yang selama ini galau memilih antara mobil listrik murni yang irit tapi takut kehabisan baterai atau MPV bensin yang jujur boros di perkotaan, BYD akhirnya memberikan jawaban. Pabrikan asal China ini resmi mengumumkan harga MPV plug-in hybrid (PHEV) andalannya, BYD M6 DM, dengan banderol yang langsung menohok segmen 7-seater konvensional.Varian Classic Standard dijual Rp298 juta dan menjadi model PHEV paling terjangkau di kelasnyaMengusung teknologi DM 5.0 yang menggabungkan motor listrik dan mesin bensin untuk efisiensi harian dan kebebasan perjalanan jauhTotal lima varian resmi meluncur, termasuk opsi Captain Seat di varian tertinggi Rp390 jutaTarget konsumen keluarga yang belum siap pindah penuh ke mobil listrik bateraiDidukung jaringan lebih dari 85 outlet di 49 kota, memastikan aftersales bukan sekadar janjiHarga dan Varian yang Langsung Menekan MPV BensinDalam pengumumannya, Operation Director PT BYD Motor Indonesia Nathan Sun mengonfirmasi bahwa M6 DM dipasarkan mulai Rp298 juta untuk varian Classic Standard. Harga ini menarik karena menempatkannya persis di jantung persaingan MPV konvensional yang selama ini dikuasai mesin bensin murni. Menariknya, ini bukan taktik gimmick harga murah dengan fitur kosong, melainkan strategi menawarkan transisi elektrifikasi yang masuk akal untuk dompet keluarga muda.Secara rinci, berikut daftar harga kelima varian BYD M6 DM yang sudah berlaku. Varian Classic Dynamic dipatok Rp318 juta, sementara lini Cross yang lebih tangguh hadir dengan Cross Advanced seharga Rp360 juta. Di atasnya, tersedia Cross Superior Rp380 juta, dan varian puncak Cross Superior Captain yang mengusung konfigurasi kursi kapten dengan harga Rp390 juta.Teknologi Dual Mode yang Hilangkan Kecemasan Jarak TempuhBYD menyematkan teknologi DM 5.0 sebagai jantung M6 DM. Sistem ini bukan sekadar hybrid generik, melainkan perpaduan motor listrik dan mesin bensin yang dirancang agar pengemudi merasakan sensasi mobil listrik dalam pemakaian harian. Tarikan awal responsif, kabin lebih senyap, dan konsumsi bahan bakar yang diklaim sangat efisien saat kondisi baterai mulai berkurang.Satu masalah klasik pengguna mobil listrik murni adalah ketersediaan infrastruktur pengecasan. Dengan sistem PHEV, M6 DM menjawabnya secara gamblang: pengguna bisa mengandalkan pengisian daya listrik dari rumah untuk aktivitas komuter, tapi tetap punya mesin bensin sebagai cadangan andal saat harus mudik atau menjelajah rute pedalaman. Bisa dibilang, ini mobil listrik harian yang tidak perlu takut kehabisan colokan.Strategi Elektrifikasi yang Lebih MembumiKehadiran M6 DM menandai perubahan peta jalan BYD yang sebelumnya hanya fokus pada mobil listrik murni (BEV) di pasar. Strategi 'dual approach' ini sebenarnya pengakuan jujur bahwa tidak semua konsumen siap terjun sepenuhnya ke ekosistem listrik. Banyak keluarga membutuhkan kendaraan 7-penumpang yang irit, namun masih butuh kepraktisan pengisian bahan bakar konvensional yang bisa ditemukan di mana saja.Portofolio BYD kini kian gemuk. Selain M6 DM, konsumen bisa memilih model full listrik seperti Seal, Sealion 7, Dolphin, Atto 3, Atto 1, hingga MPV premium Denza D9. Pilihan ini memberi keleluasaan bagi calon pembeli untuk menimbang profil pemakaian masing-masing. Apakah rute harian Anda mentok di dalam kota dengan akses pengecasan mudah, atau sering mendaki jalur luar kota yang minim Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU)?Biaya Servis dan Jaringan Purnajual Mulai TerbentukUntuk kendaraan dengan teknologi kompleks seperti PHEV, keandalan layanan purnajual sering kali menjadi ganjalan utama di benak pembeli. Sejauh ini, BYD mengklaim telah mengoperasikan 85 outlet di 49 kota dan menargetkan lebih dari 100 outlet hingga pertengahan tahun. Jumlah ini masih akan diuji seiring bertambahnya populasi M6 DM di jalanan. Namun, ekspansi agresif ini setidaknya menunjukkan keseriusan untuk tidak meninggalkan konsumen yang baru pertama kali mencoba mobil dengan sistem hybrid plug-in.Pertanyaan soal ketersediaan suku cadang dan mekanik terlatih untuk sistem DM 5.0 memang masih menjadi pekerjaan rumah. Akan tetapi, melihat antusiasme pasar terhadap kendaraan elektrifikasi dan investasi berkelanjutan dari prinsipal, bukan tidak mungkin model ini bakal menjadi gerbang massal menuju era elektrifikasi yang lebih terjangkau dan tidak menakutkan.Referensi: BYD | viva.co.id