Pabrik byd subang
- Mobil
- •
- 13 Jun, 2026
- •
- Raka Wicaksono
BYD Ungkap Penyebab Penurunan Penjualan Akibat Transisi Produksi Lokal
BYD Indonesia sedang menjalani fase krusial dalam operasionalnya. Produsen otomotif asal China ini tengah melakukan transisi besar dari model impor utuh atau Completely Built Up (CBU) menuju perakitan lokal. Langkah strategis ini berdampak langsung pada angka distribusi kendaraan ke jaringan diler yang sempat mencatatkan penurunan pada periode Mei 2026.Penjualan wholesales BYD pada Mei 2026 tercatat sebanyak 895 unit.Penurunan distribusi terjadi akibat penyesuaian sistem pasokan dari impor ke produksi lokal.Fasilitas pabrik di Subang saat ini dalam tahap finalisasi untuk mencapai kapasitas produksi 150.000 unit per tahun.BYD menargetkan normalisasi angka distribusi akan kembali berjalan mulai bulan ini.Dampak Transisi Terhadap Distribusi UnitBYD Tech Culture Fest di Medan (Photo: BYD)Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menjelaskan bahwa penurunan angka penjualan wholesales merupakan konsekuensi logis dari perubahan sumber produksi. Proses transisi ini memerlukan penyesuaian sistem logistik yang kompleks agar alur pasokan dari pabrik ke diler tetap terjaga efisiensinya.Sebelumnya, BYD mencatatkan performa distribusi yang cukup impresif sepanjang awal tahun 2026. Pada Januari, volume wholesales mencapai 4.879 unit, diikuti Februari sebanyak 4.653 unit, Maret 2.941 unit, dan April sebanyak 4.625 unit. Angka pada Mei 2026 menjadi catatan terendah sejak perusahaan mulai memasarkan produk secara resmi pada 2024.Transisi ini memang memberikan efek kejut pada angka distribusi bulanan. Namun, manajemen menegaskan bahwa situasi ini hanya bersifat sementara. Sistem pasokan sedang ditata ulang untuk memastikan kesiapan unit yang dirakit di dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan pasar dengan lebih konsisten.Investasi dan Kapasitas Produksi Masa DepanKehadiran pabrik di Subang, Jawa Barat, menjadi fondasi utama bagi BYD untuk memperkuat posisinya di pasar kendaraan listrik. Dengan nilai investasi mencapai Rp11,2 triliun, fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 108 hektar. Kapasitas produksi yang ditargetkan sebesar 150.000 unit per tahun tentu menjadi sinyal kuat komitmen jangka panjang perusahaan.Pengembangan infrastruktur manufaktur ini merupakan langkah krusial bagi produsen mobil listrik untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing harga produk di masa depan. Meskipun saat ini proses produksi belum mencapai titik maksimal, penyelesaian fasilitas perakitan diharapkan segera memulihkan stabilitas pasokan unit ke seluruh jaringan diler.Referensi: BYD | Otodream