Depresiasi Mobil Listrik Sentuh 70 Persen, Calon Pembeli Wajib Cermati 5 Model Ini

Sejumlah model mobil listrik premium dan massal tercatat mengalami penurunan harga bekas drastis hingga lebih dari 70 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Share
Ilustrasi deretan mobil listrik yang mengalami depresiasi harga bekas signifikan lebih dari 60 persen
Ilustrasi deretan mobil listrik yang mengalami depresiasi harga bekas signifikan lebih dari 60 persen

Mobil listrik kerap digadang sebagai kendaraan dengan biaya operasional lebih rendah. Namun satu aspek yang sering luput dari perhitungan adalah depresiasi atau penyusutan nilai jual yang ternyata jauh lebih dalam ketimbang mobil konvensional. Studi terbaru menunjukkan rata-rata mobil listrik kehilangan 59 persen nilainya hanya dalam lima tahun.

  • Rata-rata depresiasi mobil listrik sentuh 59 persen dalam 5 tahun, lebih tinggi dari mobil bensin atau diesel.
  • Audi e-tron GT dan Jaguar I-Pace alami penyusutan nilai paling parah, menembus lebih dari 70 persen.
  • Tesla Model S dan Model X ikut terpukul oleh perang harga serta pergeseran selera pasar ke SUV yang lebih segar.
  • Nissan Leaf generasi lawas menderita akibat kapasitas baterai dan kecepatan pengisian daya yang sudah tertinggal.

Teknologi Baterai dan Perang Harga Mempercepat Depresiasi

Beberapa faktor menjadi pemicu utama penurunan nilai mobil listrik bekas yang begitu drastis. Perkembangan teknologi baterai yang melesat cepat membuat model generasi awal terasa usang hanya dalam hitungan tahun. Model anyar hadir dengan jarak tempuh lebih jauh dan waktu pengisian daya lebih singkat, membuat versi lawas kurang diminati di pasar sekunder.

Selain itu, strategi agresif sejumlah pabrikan yang memangkas harga jual mobil listrik baru turut mengoreksi harga di pasar mobil bekas. Ketika unit baru bisa dibeli lebih murah, nilai jual kembali unit bekas otomatis ikut tertekan. Perang harga antarprodusen semakin memperburuk situasi bagi pemilik mobil listrik yang hendak menjual kendaraannya.

Audi e-tron GT dan Jaguar I-Pace, Premium yang Paling Terjun Bebas

Audi e-tron GT mencatatkan diri sebagai salah satu mobil listrik dengan penurunan nilai paling curam. Sedan listrik premium yang berbagi platform dengan Porsche Taycan ini dilaporkan mengalami depresiasi antara 60 hingga lebih dari 70 persen setelah pemakaian lima tahun. Harga barunya yang sangat tinggi tidak diimbangi oleh permintaan di pasar bekas, terutama karena konsumen di segmen ini cenderung lebih melirik model SUV atau crossover.

Nasib serupa dialami Jaguar I-Pace. Sebagai mobil listrik massal pertama pabrikan asal Inggris tersebut, I-Pace menawarkan desain dan performa mengesankan. Namun depresiasinya disebut menembus lebih dari 70 persen dalam lima tahun. Perubahan strategi Jaguar menuju merek listrik murni serta ketidakpastian masa depan lini produknya menambah keengganan konsumen untuk membeli unit bekas model ini.

Efek Perang Harga Tesla pada Model S dan Model X

Tesla Model S yang merupakan sedan flagship juga tidak luput dari penyusutan nilai tajam. Penurunan harga bekasnya dalam periode lima tahun bisa melampaui 60 persen. Salah satu penyebab utamanya adalah kebijakan Tesla sendiri yang beberapa kali menggunting harga mobil baru. Koreksi harga dari pabrikan ini langsung menekan banderol unit bekas Model S di pasaran.

Tesla Model X selaku SUV listrik andalan juga bernasib mirip meski bergenre kendaraan yang lebih populer. Model X tercatat mengalami depresiasi sekitar 61 hingga 67 persen. Usia desain yang sudah cukup matang membuatnya harus bersaing dengan jajaran SUV listrik generasi baru yang membawa teknologi baterai lebih mutakhir serta daya jelajah lebih panjang.

Nissan Leaf, Kerugian Nominal Lebih Kecil Tetapi Persentase Tetap Tinggi

Beralih ke segmen yang lebih terjangkau, Nissan Leaf tetap mencatatkan persentase depresiasi yang signifikan. Penurunan nilainya berada di kisaran 63 hingga 66 persen setelah lima tahun. Kelemahan pada kapasitas baterai generasi awal, jarak tempuh yang kalah jauh dibanding mobil listrik modern, serta kecepatan pengisian daya yang tidak lagi kompetitif menjadi penyebab utamanya.

Meski secara persentase depresiasinya besar, dari sisi nominal kerugian Nissan Leaf masih lebih rendah ketimbang model-model premium. Harga jual barunya yang lebih terjangkau membuat selisih nilai absolutnya tidak sedalam Audi e-tron GT atau Tesla Model X. Bagi pembeli yang mencari mobil listrik bekas dengan bujet terbatas, Leaf memberikan gambaran bahwa penyusutan nilai tetap harus menjadi pertimbangan utama sebelum membeli.

Referensi: VIVA Otomotif