Pemerintah Fokuskan Implementasi BBM E5 di Pulau Jawa dengan Bahan Baku Lokal

Pemerintah mulai terapkan BBM bioetanol 5 persen (E5) di Pulau Jawa pada Juli 2026, fokus pada bahan baku lokal seperti tetes tebu, jagung, dan singkong untuk mendukung transisi energi dan kemandirian bahan bakar.

Share
Biodiesel B50
Biodiesel B50

Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 5 persen atau E5 akan mulai diterapkan pemerintah pada Juli 2026. Namun, kebijakan ini belum berlaku secara nasional dan difokuskan terlebih dahulu di wilayah Pulau Jawa yang dekat dengan sumber produksi etanol dalam negeri. Wilayah prioritas mencakup Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta karena kesiapan infrastruktur distribusi dan pasokan bioetanol lokal yang memadai.

  • Harga BBM E5 akan disesuaikan dengan pasaran Rupiah di wilayah distribusi awal.
  • PT Pertamina telah menyiapkan 179 titik penyaluran BBM E5 di Pulau Jawa.
  • Penggunaan bahan baku bioetanol lokal seperti tetes tebu, jagung, dan singkong menjadi fokus utama.
  • Target pemerintah adalah peningkatan campuran bensin berbasis nabati menjadi E20 pada 2028.
Biodiesel B50
Biodiesel B50. (Photo: Istimewa)

Distribusi BBM E5 Berbasis Produksi Domestik

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa kebijakan E5 mengutamakan penggunaan bioetanol yang dihasilkan dari produksi dalam negeri. Saat ini, tiga perusahaan lokal telah siap memasok bioetanol fuel grade dengan kapasitas total mencapai 26.000 kiloliter. Volume ini menjadi dasar penetapan alokasi distribusi BBM E5 melalui Keputusan Menteri.

Distribusi BBM E5 akan disesuaikan dengan lokasi produsen bioetanol untuk menjaga efisiensi biaya logistik dan stabilitas rantai pasok. Oleh karena itu, implementasi awal hanya dilakukan di Pulau Jawa yang memiliki infrastruktur dan produksi bioetanol yang memadai.

Biodiesel B50
Biodiesel B50. (Photo: Kementerian ESDM)

Persiapan Infrastruktur dan Rencana Perluasan

Untuk mendukung program E5, PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan 179 titik penyaluran di Pulau Jawa. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah seiring dengan perluasan distribusi BBM E5 ke wilayah lain seperti Bali dan Lampung dalam beberapa tahun mendatang. Dua wilayah ini dipilih karena potensi pengembangan bahan baku bioetanol dan infrastruktur distribusi yang cukup mendukung.

Strategi Jangka Panjang Transisi Energi

Program E5 merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM fosil. Selain tetes tebu, pemerintah mulai membuka peluang penggunaan jagung dan singkong sebagai bahan baku bioetanol nasional. Langkah ini diharapkan memperkuat pasokan energi terbarukan sekaligus mendorong pemanfaatan hasil pertanian dalam negeri. Pemerintah menargetkan penggunaan campuran bensin berbasis nabati meningkat menjadi E20 pada tahun 2028, sebagai bagian dari upaya ketangguhan energi nasional.

Via: www.otodream.com